Gotong Royong
A. Sebuah Pengantar
Kita
dapat melakukan penelusuran historis terkait proses perumusan dasar negara
merdeka yaitu Pancasila pada sidang pertama BPUPK (29 Mei-1 Juni 1945) dan
sidang pertama PPKI pada tangal 18 Agustus 1945 yang menyepakati Pancasila
sebagai Dasar Negara Indonesia merdeka. 1 Juni selalu diperingati sebagai hari
lahir Pancasila ditandai dengan salah satu fakta sejarah bahwa pada tangal
tersebut Ir. Soekarno menyampaikan Pidato terkait dasar negara merdeka yang kemudian
dengan petunjuk temannya yang ahli Bahasa, kelima prinsip yang beliau sampaikan
dinamakan sebagai Pancasila. Ir. Soekarno pun memberi pilihan, kelima sila
tersebut dapat diperas menjadi tiga prinsip dan dapat diperas lagi menjadi satu
prinsip, gotong royong.
Secara
umum prinsip gotong royong mengandung substansi nilai-nilai ketuhanan,
kekeluargaan, musyawarah dan mufakat, keadilan dan toleransi (peri kemanusiaan)
yang merupakan basis pandangan hidup atau sebagai landasan filsafat bangsa
Indonesia. Mencermati prinsip yang terkandung dalam gotong-royong jelas melekat
aspek-aspek yang terkandung dalam modal sosial. Nilai gotong royong dalam
masyarakat memiliki hubungan positif dengan modal sosial dalam artian semakin
menguatnya gotong royong maka secara tidak langsung ikut membangun modal sosial
dalam masyarakat.
![]() |
|Contoh Praktek Gotong Royong| |
B. Pengertian Gotong Royong
Gotong royong berisi semangat kerja sama dan bahu membahu
untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik bagi semua warga. Ia khas Indonesia
dan tidak dimiliki bangsa lain. Zoon politicon manusia Indonesia adalah
hidup dalam kegotongroyongan ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
gotong royong bermakna bekerja Bersama-sama (tolong menolong, bantu -membantu).
Kata gotong royong sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu gotong dan royong.
Gotong artinya pikul atau angkat. Sedangkan royong artinya
Bersama-sama. Dengan demikian, secara harfiah gotong royong dapat diartikan
mengangkat beban secara bersama-sama agar beban menjadi ringan.
Baca Juga: Peluang dan Tantangan Penerapan Pancasila
C. Jenis-Jenis Gotong Royong
Koentjaraningrat
membagi dua jenis gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia yaitu
gotong royong tolong-menolong dan gotong royong kerja bakti. Kegiatan gotong
royong tolong-menolong bersifat individual, misalnya menolong tetangga kita
yang sedang mengadakan pesta pernikahan, upacara kematian, membangun rumah, dan
sebagainya. Sedangkan kegiatan gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan
untuk mengerjakan suatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, seperti
bersih-bersih desa/kampung, memperbaiki jalan, membuat tanggul, dan lain-lain.
Lebih lanjut, Koentjaraningrat membagi gotong royong yang terdapat pada
masyarakat pedesaan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu:
1. Tolong-menolong
dalam aktivitas pertanian;
2. Tolong-menolong
dalam aktivitas sekitar rumah tangga;
3. Tolong-menolong
dalam aktivitas persiapan pesta dan upacara;
4. Tolong-menolong
dalam peristiwa kecelakaan, bencana, dan kematian
D. Praktik Gotong Royong Di Lingkungan
Sekolah
Salah satu dampak negatif
dari globalisasi selain membuat generasi mudah kehilangan jati diri juga mempengaruhi
mindset tentang gotong royong. Makna gotong royong di kalangan siswa menjadi
berubah dan tidak sesuai dengan hakikatnya. Pemaknaan gotong royong menjadi
berkonotasi negatif, seperti gotong royong dalam melakukan kecurangan saat
ujian dan lainnya (Hanafi, 2016) Firdausi. 2016). Adanya kesadaran setiap elemen atau lapisan masyarakat dalam
menerapkan perilaku gotong royong maka hubungan persaudaraan atau silaturahim
akan semakin erat. Individualisme yang mementingkan diri sendiri akan
memperlambat pembangunan di suatu daerah. Mengedepankan kesajahteraan umum dan
gotong royong bisa tercapai lewat dialektika musyawarah-mufakat.
Gotong royong sangat penting dilakukan oleh setiap orang, berikut 6 contoh kegiatan di sekolah yang membutuhkan gotong
royong:
1. Membersihkan taman sekolah.
2. Membersihkan ruang kelas bersama anggota kelas.
3. Membersihkan tempat ibadah di sekolah.
4. Membersihkan toilet bersama.
5. Mengumpulkan sampah dan membuangnya pada tempat sampah.
6. Membagi jadwal piket secara adil antara setiap anggota kelas untuk
merapikan kursi dan meja di dalam kelas sehabis pulang sekolah.
Dikutip dari buku Rekonsepsi Pendidikan Karakter
Era Kontemporer yang ditulis oleh Dr. Munifah, M. Pd. (2020: 35), konsepsi
karakter gotong royong di dalam masyarakat Indonesia sebenarnya berangkat dari
semangat bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama. Secara sederhana, karakter
gotong royong menggambarkan tindakan saling menghargai, bahu-membahu untuk
menyelesaikan masalah bersama-sama, bekerja sama untuk tujuan sosial, melakukan
komunikasi, dan simpati dalam menolong orang yang membutuhkan.
Daftar Pustaka
Effendi, T. N. (2013). Budaya Gotong-royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 2(1), 1–18.
Firdausy, Y. (2016). Pudarnya Gotong-Royong di Era Globalisasi. Hanafi. (2016). Pudarnya Budaya Gotong-royong Pada Era Globalisasi.
Muryanti. (2014). Revitalisasi Gotong-Royong: Penguat Persaudaraan Masyarakat Muslim Di Pedesaan. Sosiologi Reflektif, 9(1), 63–81
Tidak ada komentar